Kembali lagi dengan cerita " waiting ",tetep copast ya:) .tapi yang Rio's POV... ini tuh kaya waiting yang tadi tapi pake
sudut pandang dari Rio. jadi kalo ada adegan yang sama dengan yg kemarin
ya emang wajar kok :D kan samaan :)
> Author : Wulan
Twitter : @Wulan_VBlues
I hope You like....
#Waiting_Rio's POV
***
Rindu
itu akan terasa saat kita dipisahkan jarak, ruang dan waktu. Rindu itu
saat aku tak bisa melihat senyuman itu lagi. Dan rindu itu, saat aku
menunggu waktu untuk bertemu denganmu, Alyssa Saufika Umari.
***
Aku merebahkan badanku di kasur kesayanganku, seharian ini sangat
melelahkan. Bukan fisikku yang lelah, tapi hatiku. Entah kenapa,
bayangan cewek itu selalu mengganggu pikiranku. Akumengambil handphoneku, lalu mencari-cari sebuah video. Video saat aku mengikuti Grand Final Idola Cilik 3. Alunan melody dari jari lentik itu terasa menentramkan hatiku.
“Ify…”
gumamku. Aku mulai memejamkan mata, membiarkan kenangan itu menyeruak,
tak peduli akan sakitnya saat aku membuka mata lagi.
“Ayo, Rio…”
“Tapi, Ma… Rio belum pamit sama Ify”
“Rio sayang… pesawatnya udah mau berangkat, ayo sayang…”
“Tapi, Ma…”
“Kalian akan bertemu lagi, Yo”
Mimpi
itu lagi. Aku teringat saat itu, saat di mana awal kesalahanku. Aku
pergi tanpa sempat pamit kepada Ify, dan hingga kini aku belum bertemu
lagi dengannya. Aku sangat menyesal.
“Aaarrgghh…” aku mengacak rambutku frustasi. Ify Ify Ify dan Ify, hanya nama itu yang membuatku seperti ini.
“Rio, tadi kamu teriak, kamu kenapa?” mama langsung menghampiriku dengan cemas.
“Hehehe, nggak papa kok, Ma. Rio lagi belajar acting, keren kan?” jawabku sambil nyengir.
“Kamu ini, ada-ada aja. Jangan teriak-teriak lagi” kata mama sambil mengacak rambutku.
“Siap,komandan” ujarku dengan gaya hormat ala tentara, mama terkekeh lalu keluar dari kamarku.
“Hh… gue kangen loe, Fy”
***
Akud
an kamu memang tidak bersama. Tapi aku yakin, aku dan kamu akan menjadi
kita. Meski harus menanti bertahun-tahun lamanya, aku rela. Karna aku
mencintaimu, Alyssa.
***
Aku segera mengambil laptopku dan meng-connect-kannya ke internet.
Hal yang diam-diam menjadi rutinitasku adalah mencari hal-hal seputar
RFM. Komunitas yang aku resmikan saat ulang tahunku itu, bukan sekedar
aku resmikan. Karna sebenarnya ada harapan, agar aku dan dia bisa
bersama. Seperti harapan anak Rise-IFC yang bersatu menjadi RFM. Rify
Maniac.
“Ify…Ify… kapan ya kita bisa ketemu? Kapan ya kita
bisa duet lagi? Kalau kita duet kayaknya bisa ngalahin Anang-Ashanty
nih” aku cengar-cengir gaje dengan pikiranku sendiri. Aku lalu
meneruskan membaca cerbung di hadapanku.
“Woii bro..” aku melirik
malas pada Kak Acell yang sudah nyengir ke arahku. Benar-benar
mengganggu lamunanku tentang Ify. Aku menutup laptopku lalu menghadap
kakakku satu-satunya itu.
“Apa?” balasku malas.
“Muka loe kucel amat? Kaya cucian belum disetrika” kak Acell mengamatiku lebih detail.
“Tapi loe kaya gini semenjak pulang dari MnG Jakarta waktu itu”
“Hah?!” aku kaget dengan penilaian Kak Acell. Masa sih aku beda? Yah, kalau tentang Meet n Greet Jakarta waktu itu aku memang agak kecewa. Karna aku berharap bisa bertemu dengan Ify, tapi nyatanya tidak.
“Sok tau” dengusku lalu tak menghiraukan ocehan Kak Acell.
***
Menunggu
itu suatu pengharapan. Entah sampai kapan aku berharap, sedangkan
banyak diluar sana yang sama-sama memperhatikanmu. Mereka yang tak
terpisahkan jarak denganmu. Mereka yang bisa menatapmu sesuka hati,
mereka yang mampu mengucapkan ‘I love you’ padamu. Tak sepertiku yang
disini, yang iri dengan apa yangdilakukan mereka.
***
Malam ini setelah belajar aku segera membuka youtube. Lalu mencari lagu-lagu yang sudah di-cover Ify. Lagu Andaikan ciptaan Ify ini terasa menentramkan hatiku. Liriknya penuh makna, entah ditujukan kepada siapa.
“Lagu ini buat siapa, Fy? Ray? Tristan? Atau… gue Fy?” aku terdiam saat menemukan sebuah video. Lagu when you’re gone-nya Avril Lavigne yang di-cover Ify dengan Tristan pada saat hari ultahku kemarin merupakan pukulan bagiku.
“Ify…Tristan”
aku bukannya tidak tahu siapa itu Tristan. Teman sekolah Ify yang suka
pada gadis itu, dan Ray sahabatku waktu di Idola Cilik juga menaruh
perhatiannya pada Ify. Bahkan Ray berani blak-blakan di media social,
tak seperti aku yang hanya berani menebar ‘kode-kode’ saat MnG.
“Hh..” lagi-lagi aku menghela napas, rasanya sesak sekali menerima semua itu. Aku mengambil gitarku dan mulai memetik senarnya.
I’m broken, do you hear me?
I’m blinded, ‘cause you are everything I see
I’m dancing alone, I’m praying
That your heart will just turn around
And as I walk up to your door
My head turns to face the floor
‘cause I can’t look you in the eyes and say
When he open his arms and holds you close tonight
It just won’t feel right, ‘cause I can love you more than this
When he lays you down, I might just die inside
It just don’t feel right, ‘cause I can love you more than this…
Can love you more than this….
[One Direction – More than this]
“Gue cemburu Fy…” aku tersenyum pedih dan mengambil foto Ify yang diam-diam ku simpan.
***
Jika
ada kesempatan aku akan memangkas jarak di antara kita. Aku akan
merengkuhmu dalam pelukanku hingga aku tak perlu merasakan sesak ini
lagi. Setelah lamam enunggu, aku tak akan pernah mundur darimu. Ify… aku
kembali.
***
Aku
mengernyitkan keningku heran, saat di sekolah tadi mama menyuruhku
cepat-cepat pulang. Dengan berat hati aku meninggalkan rutinitasku
bermain basket sepulang sekolah.
“Ada apa,Ma?” tanyaku.
“Duduk
dulu, Yo” aku langsung duduk di depan mamaku. Aku sedikit tegang saat
menyadari mama tengah menatapku dengan serius. Mama tidak bermaksud
menjodohkanku kan? Aku langsung terbayang cerpen rify yang ku baca
semalam. Kalau yang bakal dijodohin ama Ify sih mau mau aja hehehe… tapi
kalo ama yang lain? BIG NO.
“Rio…”
“Ya, Ma?”
“Kamu diundang sebagai bintang tamu di Grand Final Idola Cilik 2013”
“Hah?!”
aku hanya melongo mendengarnya. Benarkah? Aku di undang? Apakah nanti
Ify juga diundang? Apa aku bisa bertemu dengannya setelah sekian lama
tak bertemu.
“Jadi gimana, Yo?” pertanyaan mama membuyarkan lamunanku.
“Rio
mau, Ma” jawabku mantap dengan bersemangat, kelewat bersemangat malah.
Aku jadi malu sendiri saat mama menatapku penuh arti.
“Semangat banget, Yo?” goda mama.
“Ngg…itu, Ma. Rio kangen aja ama suasana Idola Cilik” jawabku sedikit gugup.
“Bukan kangen sama teman duet kamu?” aku terdiam, tumben banget sih mama godain aku mulu.
“Eh..nggak kok, Ma. Rio biasa aja sama Ify” jawabku salting.
“Lho
emang mama bilang kamu kangen sama Ify? Kan mama bilang temen duet, Yo.
Lintar juga pernah duet sama kamu, Patton juga, kok kamu malah bilang
Ify? Nah…ketahuan kan kalo lagi mikirin Ify” aku diam saja, wajahku
pasti sudah merah sekali. Siaaal… kenapa jadi salah ngomong.
***
Berapa
banyak waktu lagi yang ku perlukan untuk menunggumu? Kita sudah semakin
dekat, entah kamu merasa atau tidak. Aku disini, di tempat pertama kita
bertemu. Berharap waktu itu terulang lagi dan aku tak akan
menyia-nyiakan kesempatanl agi, Alyssa-ku.
***
Akhirnya
aku tiba juga di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Panas Jakarta seakan
menyambutku. Diam-diam aku tersenyum, jarakku dengan Ify semakin pendek.
“Masih lama, Ma?” tanyaku saat menunggu jemputan.
“Sebentar lagi kok, ini lagi di hubungi” aku mengangguk lalu mengeluarkan sebuah novel dari tasku.
“Kamu baca apa,Yo?” tanya mama.
“Novel? Sejak kapan kamu suka baca novel? Biasanya juga baca komik?” mama mengerutkan kening heran.
“Iseng
aja kok, Ma. Bagus sih ceritanya” jawabku, mama hanya mengangguk. Novel
ini kan bukan sekedar novel buatku. Novel yang ku dapat saat Meet n Greet di Malang waktu itu memang istimewa buatku. Terlebih nama tokohnya menggunakan namaku dan Ify.
“Ayo”
mama menarikku menghampiri mobil yang akan membawaku ke hotel. Setelah
segala urusan selesai, disinilah aku. Di ruang latihan bersama sahabatku
Lintar. Aku senang bisa bertemu dengan Lintar, sahabatku yang sering
aku jahili dengan Alvin dulu. Senang bisa ketemu Debo, yang selalu
menjadi idolaku. Senang bertemu Patton, Kiki dan Angel, alumni idola
cilik. Tapi tetap saja ada rasa kecewa, kenapa Ify tak di undang? Kenapa
tak ada duet seperti dulu lagi?.
“Rio…bisa focus sebentar?
Latihannya bentar lagi selesai kok” teguran Kak Oni menyentakkanku ke
alam sadar. Aku mengangguk dan minta maaf, lalu mulai focus latihan.
“Hh.. capek” dengus Lintar di sampingku. Aku tak menanggapinya, aku mengambil novelku lagi.
“Eitts…apaan nih?” Debo menyambar begitu saja novel dari tanganku.
“Heh, balikin” aku langsung merebut novel itu, nggak rela banget novelnya rusak oleh ulah usil Debo.
“Nggak salah loe baca novel?” tanya Debo sambil mengerutkan keningnya.
“Judulnya apa?” tanya Patton.
“SAVO”jawabku pendek.
“Pinjem…” tangan Lintar hampir meraih novelku, tapi segera ku tepis.
“Boleh, tapi kamu mesti ngasih gue chitato satu kardus” ujarku menyeringai jahil.
“Huh…dasar Mr. Chitato pelit..” gerutu Lintar yang disertai kekehan yang lain minus Lintar.
***
Aku
memang tak sempurna, aku tak seberani mereka yang terang-terangan
menyatakan perasaannya padamu. Tapi jika diberi kesempatan, aku akan
mengatakannya bahwa aku mencintaimu. Sekarang, atau tidak sama sekali?! I
love you Ify-ku.
***
Aku menatap layar handphone-ku
terus-menerus. Sebentar saja jari-jariku sudah mengetik sebuah sms,
tapi aku malah menghapusnya. Begitu seterusnya, entah apa yang ingin ku
lakukan, aku benar-benar menanti kehadiran Ify.
“Yo,
sebentar lagi kita tampil” panggil Lintar, aku hanya mengacungkan
jempol.Dengan memantapkan hati aku mengirim sms kepada Ify, semoga
nomernya belum ganti.
---------------------------
To : Ify Haling
Ify. Gue ada di Jakarta, apa bisa kita ketemu?
Sebelum gue balik ke manado :)
---------------------------
Aku terkekeh sebentar. Ify Haling? Pasti jika ada yang melihat nama Ify di handphone-ku
langsung syok. Aku lalu menghampiri Lintar yang masih menungguku.
Acaranya meriah, walau tak semeriah saat angkatanku. Setidaknya aku
senang bisa bertemu dengan Rise dan… RFM. Setelah acara Grand Final ini
selesai, aku langsung meluangkan waktuku dengan anak-anak Rise dan RFM.
Aku cengo saat menatap baju anak RFM. Mario-Alyssa? Aku malu, tapi ada
perasaan senang juga.
Aku melihat
antusias saat rombongan anak alumni Idola Cilik 1 berjalan ke arahku.
Tapi lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan. Ify tidak ada, hanya Day,
Sion dan beberapa anak lain, tanpa IFY.
“Kenapa,Yo?” tanya Lintar yang berada di sebelahku.
“Nggak
papa” aku melirik jam tanganku. Sudah dua jam berlalu sejak sms ku
tadi. Apa Ify nggak bisa datang? Apa Ify bahkan sudah lupa denganku? Aku
merindukanmu Fy. Aku menyingkir dari teman-temanku.
“Fy…” aku
berjalan sendirian. Mataku menatap nyalang, aku menghembuskan napas
kasar. Tunggu, kenapa ada seorang cewek berdiri di sana. Apa dia Ify?
“Ify…” panggiku ragu. Cewek itu membalikkan badannya, benar dia Ify. Aku mendekati Ify yang masih terdiam.
“Jangan nangis” aku menghapus air matanya dengan tanganku lalu merengkuhnya ke dalam pelukanku.
“Rioooo” aku tersentak saat Ify mulai terisak di pelukanku, air matanya membasahi bajuku.
“Maaf…maaf membuatmu menunggu…” aku mengeratkan pelukanku.
“Jangan tinggalin gue, jangan pergi dari hidup gue” tuntutnya. Apa berarti Ify mempunyai perasaan yang sama denganku?
“Nggak
akan Fy, karna gue sayang sama loe” Ify mendongak saat aku tengah
menatapnya.Matanya memancarkan rasa sakit, harapan dan kerinduan. Apa
semua ini karenaku?
“Aku cinta kamu Alyssa Saufika Umari, Would you be my girl?” Ify membelalakkan matanya. Aku hanya tersenyum melihat reaksinya.
“Yes, I would Mario Stevano Aditya Haling” aku kembali memeluknya.
“Makasih Fy”
“Cieeeeeee” aku sedikit tersentak, ternyata aku melupakan teman-temanku. Benar saja mereka semua tersenyum jahil padaku dan Ify.
“Rioo…” Ify menyembunyikan wajahnya yang memerah karna malu di pelukanku.
“Ciee…main peluk-pelukan” goda Angel.
“Dunia terasa milih berdua euy” Debo tersenyum jahil.
“Kita mah ngontrak” celetuk Dayat. aku terkekeh melihat Ify semakin malu.
***
Ini
adalah akhir dari sebuah penantian. Aku yang selalu merindukanmu, aku
yang terlalu takut mendapat penolakanmu. Tapi aku yang bahagia saat kamu
membalas perasaanku. Aku mencintaimu Alyssa, entah sampai kapan, semoga
selamanya. Mario for Alyssa and Alyssa for Mario.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar